Cerita Jamu ‘Cekok’ di Masa Kecil Hingga ‘Kunir Asem’

“Jika ditanya cerita jamu yang paling mengesankan itu saat masih kecil aku selalu jadi langganan buat dicekoki mbah penjual jamu. Aku masih ingat raut wajah tegas mbah penjual jamu, keriput tangan berwarna kuning samar karena kebanyakan memeras empon-empon, hingga senyumnya yang lega ketika berhasil membuatku menelan jamu cekokan,” ​

Aku bercerita sambil mengingat cerita jamu yang pernah menjadi bagian nafsu makanku saat kecil. Mas tertawa mendengarnya, “Yak arena sampeyan susah, sih, disuruh makan, makanya dicekoki jamu,” katanya sambil mengelus kepalaku lembut. “Nah sekarang baru merasakan betapa pusingnya seorang ibu ketika anak susah makan, kan, Hahaha,”

Aku hanya membalas dengan tersenyum tipis, lalu pandangan mata kami beralih kepada sosok bertubuh mungil yang sedang sibuk bermain puzzle binatang. Ah, tak menyangka ternyata waktu begitu cepatnya berlalu, padahal sedang nostalgia masa lalu dengan jamu, eh malah disadarkan tentang peran ibu yang selalu berusaha agar anak mau makan.

Mungkin dulu ibuku juga pusing karena aku orangnya malas makan sejak kecil, akhirnya pilihannya ya dicekoki jamu. Eh, sekarang aku merasakan sendiri ternyata menjadi ibu itu memang tak mudah, apalagi persoalan makan anak yang harus lebih banyak bersabar dan belajar, entah mulai dari soal menu, rasa, hingga aturan makan.

Kini anakku sudah mulai makan menu keluarga, usianya sudah 17 bulan. Jangan tanya soal makan, dia sangat peka soal rasa, jadi sama seperti bapak ibuknya yang kadang susah makan juga. Tapi beruntungnya dia hidup di jaman ini, jadi nggak bakal ada tradisi cekok jamu, mungkin kasih tambahan vitamin aja. Lebih enak dan nggak pahit, kan. 

Jamu ‘Cekokan’, Tradisi Agar Anak Mau Makan

“Tiap kali ada mbah penjual jamu, aku selalu menunggu. Berharap dibelikan beras kencur yang rasanya segar dan manis, tapi ketika mbah mengeluarkan buntelan kain putih yang berisi jamu, aku selalu bersiap untuk kabur, karena tahu bakalan dicekoki, Haha.”

Jamu memiliki kenangan tersendiri yang mewarnai masa kecilku, bukan sejenis trauma karena dipaksa minum jamu. Bahkan aku masih ingat setiap detailnya, saat itu sekitar usia 3 atau 4 tahun, aku digendong ibu, tubuh dan tangan didekap erat, lalu mbah penjual jamu bakal memasukkan buntelan putih itu ke dalam mulutku sambil diperas agar sari jamu keluar. Setelah itu, baru disuruh minum beras kencur yang banyak agar rasa pahit segera hilang.

Aku baru tahu saat sudah besar bahwa jamu cekokan itu terbuat dari bahan-bahan atau empon-empon yang bisa meningkatkan nafsu makan, seperti temulawak, lempuyang, kuyit, temu ireng, papaya yang rasanya jangan ditanya. Pahit banget, makanya karena pahit, cara memberikan pada anak ya dengan dicekok atau mengucurkan jamu langsung ke dalam mulut agar biar langsung ditelan.

Jamu cekokan mungkin semacam tradisi di masa lalu agar anak mau makan, ya maklum dulu vitamin meningkatkan nafsu makan anak nggak sebanyak sekarang. Jamu adalah pilihan yang murah meriah, alami, dan menyehatkan, bukan.

Manfaat Jamu ‘Cekok’ untuk Tumbuh Kembang Anak

Memberikan jamu khusus saat anak susah makan sudah menjadi tradisi masyarakat yang turun temurun sejak dulu. Disebut jamu khusus karena cara pemberiannya dengan cara cekok, atau metode pemberian jamu dengan cara dicangar agar nantinya jamu bisa masuk ke dalam mulut anak.

Dalam sebuah jurnal ‘Pengaruh Jamu Cekok Terhadap Kenaikan Berat Badan dan Jumlah Makanan yang Dikonsumsi Mencit’ menyebutkan bahwa pemberian jamu secara rutin setiap 1 minggu sekali secara teratur, dalam sebulan memberikan dampak signifikan terhadap kenaikan berat badan anak.

Tak hanya bisa mengatasi berkurangnya nafsu makan anak, ternyata jamu cekok juga dapat dikonsumsi orang dewasa yang bisa meningkatkan imunitas.

Bahan yang Digunakan untuk Jamu ‘Cekok’

Ada beberapa bahan dari Jamu Cekok yang berpengaruh terhadap nafsu makan anak. Dlansir dari jurnal yang sama, jamu cekok mengandung bahan-bahan alami yang bisa didapatkan di sekitar kita. Bahan atau rempah yang digunakan juga memiliki khasiat lain seperti menyembuhkan penyakit ringan seperti cacingan, diare, atau perut kembung.

Bahan yang digunakan dalam ramuan jamu cekok diantaranya daun papaya, temulawak, temuireng, kunyit, adas. Semua bahan dihaluskan lalu sarinya diminumkan kepada anak dengan cara dicekok. Bahan yang dipilih juga tidak sembarangan, karena memiliki khasiat yang berbeda.

Seperti halnya kunyit berkhasiat untuk mengobati sakit diabetes, tifus, nyeri haid, keputihan, dan lain-lain.Ada Adas yang bermanfaat untuk mengatasi sakit perut, mual muntah, diare, hingga kurang nafsu makan. Hingga temulawak dan temulawak hitam mengobati berbagai penyakit dan meningkatkan nafsu makan.

Lebaran Bukan Air Kemasan, Tapi Jamu Memperkuat Anti Bodi

“Lebaran tahun ini, tolong buatkan wedang jamu jahe sereh, ya. Jadi nggak usah beli air putih kemasan lagi,” pesan ibu kepada kakak.

Jamu sereh, daun salam, jahe, kayu manis, dan gula merah jadi minuman khas lebaran tahun ini di rumah ibu. Kakak sudah menyiapkan satu dispenser ukuran 15 liter untuk hidangan para tamu. Jangan tanya soal rasa, enak, bahkan perpaduan bahan empon-empon itu bikin tubuh berasa enteng saja.

Kakaku memang pernah membuka usaha warung jamu saat masih muda, jadi dia lebih banyak tahu soal jamu untuk menjaga kesehatan. Meskipun usahanya sudah tutup lama, tapi minatnya terhadao jamu masih tinggi. Bahkan menularkan ke keluarga, bahwa jamu itu tak selamanya pahit. Ada juga yang manis, tergantung fungsinya buat apa.

Bahkan satu tahun lalu kakak berencana untuk menjual jamu bubuk, bahan-bahan sudah dipersiapkannya sendiri. Mulai dari jahe, kunir, kencur, dan berbagai kemasan dicoba. Tapi karena waktunya tak memungkinkan, alhasil belum terrealisasi. Tapi keinginan itu seolah masih ada, terbuksi kakak masih bersedia membuatkan jamu jahe sereh dan daun salam untuk minuman lebaran di rumah ibu.

Aku baru tahu ternyata perpaduan wedang jahe sereh daun salam itu memiliki banyak manfaat untuk tubuh, apalagi cara bikinnya juga mudah, membuatku ingin kembali membuatnya. Saat kutanya Mas soal wedang sereh di rumah ibu, ternyata dia menyukainya. Makanya sebagai istri yang baik, beberapa waktu lalu aku membuatkan untuknya, lalu beberapa yang tersisa kusimpan di freezer.

Saat Datang Bulan, Jamu Kunyit Asam Selalu Jadi Teman

Dulu tiap bulan selalu jadi jadwal rutin kram perut bakal mengisi daftar hadir yang akan menganggu seharian. Aku sudah menandai jika datang bulan, pasti semua aktifitas bakalan terganggu, karena nyeri di perut yang selalu hadir tiap bulannya.

Tapi itu dulu semenjak belum mengenal jamu kunyit asam untuk menyembuhkan perut yang sedang kram karena datang bulan. Padahal sudah mengenal jamu sejak kecil, tapi entah kenapa belum kepikiran kalau minum jamu kunyit asam bisa meredakan nyeri kram.

Kalau kini, syukurlah jamu kunyit asam sudah membantu mengurangi rasa sakit karena kandungannya.

Jamu jadi Minuman Kesehatan Keluarga

Dari jamu gendongan, gerobak, kios jamu, hingga toko online tak membuat peran jamu mulai bergeser dan sepi pemunit. Jamu tetaplah  memiliki pasar sendiri, karena jadi salah satu warisan budaya, mari menghargai dan menikmati jamu dengan senang hati. Selamat Hari Jamu. ***