
Mengenal pertama kali sosok owner dari bisnis cuci sepatu Blitar MClean Wash and Care saat agenda curhat bisnis Blitar Cahpreneur di Ramen Master. Perempuan yang first impression punya karakter pendirian yang kuat, ternyata juga seorang pengacara dan dosen di sebuah kampus Blitar.
Beruntung sekali, akhir tahun lalu aku berkesempatan bertemu langsung dengannya untuk mendengarkan kisah perjalanan usahanya. Meski jarak antara pertemuan itu dengan tulisan ini cukup jauh, namun memori hari itu masih terekam jelas.
Sore itu hujan turun dengan sangat lebat. Namun, tekadku untuk belajar bisnis sudah bulat, jadi aku tetap berangkat. Aku bahkan sempat mendokumentasikan perjalanan menerjang hujan deras tersebut hanya demi mendengar cerita dari Mbak Nabila.
Satu hal yang paling membekas adalah harapan besar Mbak Nabila agar usahanya semakin dikenal. Ada tekad kuat untuk membesarkan bisnis yang ia bangun bersama sang suami agar menjadi sesuatu yang lebih berkembang lagi.
Table of Contents
Bukan Honeymoon, Tapi Merintis Usaha Bersama
“Hidup di Blitar itu slow living, apalagi setelah menikah belum punya urgency (kebutuhan-kebutuhan yang mendesak), makanya ingin buka usaha,” ucap perempuan yang punya pendirian teguh ini.
Sembari menikmati rintik hujan, aku menyimak ceritanya yang menggebu-gebu. Ia menegaskan bahwa bisnis ini dirintis dengan sepenuh hati, bukan sekadar usaha sampingan di sela kesibukan pekerjaan tetapnya.

“Orang-orang sering menganggap usaha ini cuma sampingan, padahal kami sangat serius, Mbak. Aku belajar benar-benar (tenanan),” katanya dengan nada yang separuh kesal namun tetap diselingi canda.
Aku jadi teringat sebuah buku bahwa “kita tak bisa mengendalikan pikiran orang lain, tapi kita bisa mengatur dan mengendalikan pikiran kita.” Mungkin untuk menolak keras anggapan orang lain tentang hal itu, salah satu caranya ya membuktikannya.
Meskipun usaha ini adalah pengalaman pertama membangun bisnis, namun perjuangan mereka untuk tumbuh berkembang memberikanku inspirasi.
Pasangan pemilik MClean ini menjalankan dua peran berbeda dengan sangat harmoni, sesuatu yang tidak semua orang bisa lakukan.
Apalagi mendengar cerita bahwa mereka memilih merintis usaha alih-alih pergi honeymoon setelah menikah, ditambah latar belakang keluarga yang mapan secara ekonomi namun tetap memilih berjuang dari bawah, memberiku sudut pandang baru: Mental pebisnis itu bisa ditumbuhkan, bukan hanya lahir karena keadaan.
Awal Merintis Usaha dengan Berbagi Brosur
“Jadi setiap ketemu orang dikasih flyer MClean yang selalu disimpen di dalam tasnya (suami)”

Merintis usaha memang tidak pernah mudah, apalagi saat belum ada yang mengenal brand kita. Sang suami telah merintis MClean sejak tahun 2019 di Tulungagung, namun baru membuka gerai (outlet) offline pada tahun 2023 di Blitar.
Awalnya, MClean dijalankan oleh tiga orang: Mbak Nabila, suaminya, dan seorang rekan. Suaminya memegang skill dasar dan manajerial, sementara rekannya memiliki keahlian teknis mencuci sepatu karena pernah belajar langsung di unit usaha milik dr. Tirta.
Di tahun pertama, mereka bertiga merangkap semua tugas: mulai dari marketing, desain flyer, mencuci sepatu, hingga menjadi kurir antar-jemput karena keterbatasan modal.
Mbak Nabila menceritakan betapa sederhananya kondisi kios mereka saat itu. Proses menyikat sepatu masih dilakukan sambil lesehan, ruangan banyak yang kosong, meja terbatas, bahkan sepatu yang dipajang di rak adalah sepatu milik mereka sendiri agar terlihat ada isinya.
“Pokoknya jalani saja dulu, buka saja dulu. Tidak usah terlalu banyak berpikir. Yang penting jalan dulu,” pesan sang suami yang selalu terngiang di kepala Mbak Nabila.
Pernah ada masa di mana dalam satu hari tidak ada satu pun pelanggan yang datang. Sebulan omzet tidak sampai 2 juta rupiah. Itulah sebabnya berbagai promo diluncurkan, mulai dari free pick-up and delivey, cuci dua gratis satu, hingga promo khusus bagi pelanggan dengan pengikut banyak di media sosial.
Akhirnya perlahan usaha MClean bisa berkembang hingga memiliki 3 karyawan tetap dan 1 karyawan freelance, penambahan peralatan pencucian berupa mesin cuci sepatu berbasis uap, bahkan buka cabang di Tulungagung namun tidak menggunakan nama MClean.
“Jangan membuka cabang jika belum memiliki legalitas. Jika cabang lebih maju, bisa saja mereka mengklaim sebagai yang pertama berdiri.” Aku baru menyadari bahwa ekspansi bisnis memiliki etika dan prinsip hukum yang ketat.
Cerita Customer: Ingin Sepatu Jadi Baru, Padahal …
“Ada customer yang datang ingin nyuci sepatu, tapi berharap bisa kembali seperti baru. Kan nggak mungkin. Makanya perlu ada edukasi bahwa mereka itu mencuci, bukan mengganti seperti baru,”
Yang paling bikin gemes saat mendengar cerita Mbak Nabila adalah customer yang ingin sepatunya berubah menjadi baru setelah dicuci di MClean Wash and Care. Bahkan katanya pernah ada karyawan yang masih 2 hari bekerja sudah kena semprot customer karena masalah ini.
“Customer datang, kita edukasi, mana yang nggak bisa hilang, mana yang bisa hilang dan lain-lain, biar mereka tidak berekspektasi tinggi. Makanya kan tempat cucian sepatu nggak ada yang berani bilang, ‘like new’” kata Mbak Nabila untuk mengantisipasi dengan edukasi seputar cuci sepatu bukan mengganti barang jadi baru.
Persaingan Makin Ketat, Kualitas Terus Dirawat
“Kualitas terus kami jaga. Kami juga menyediakan layanan yang tidak dimiliki kompetitor, seperti cuci racing apparel (perlengkapan olahraga balap motor) dan lain-lain.”
Mbak Nabila menyadari bahwa persaingan semakin ketat, bahkan di area sekitar Stadion Blitar saja sudah banyak jasa serupa. Strategi bertahannya adalah konsistensi kualitas. Ia melakukan review teknis kepada karyawannya setiap satu bulan sekali untuk memastikan standar pencucian tetap terjaga.
Hal ini mengingatkanku bahwa kompetitor justru membuat kita bertumbuh. Kehadiran mereka memaksa kita untuk terus belajar, berinovasi, dan memikirkan strategi agar bisnis tetap relevan.
Aku sendiri sempat mencoba jasa MClean untuk sepatu suamiku yang sudah berbulan-bulan tidak dicuci. Pengerjaannya cukup cepat (3-5 hari) dan admin segera menghubungi via WhatsApp saat sudah selesai.

Aku melihat sendiri betapa detailnya proses mereka. Ada wadah dan sikat yang berbeda-beda tergantung bagian sepatu yang dibersihkan. Mereka menggunakan konsep mencuci kering (dry cleaning), bukan basah seperti yang biasa kita lakukan di rumah, karena tiap bahan (kulit, kain, dll) memerlukan perlakuan khusus.
Bahkan untuk noda membandel atau sepatu bekas medan berat (trail), mereka punya “ramuan” pembersih tersendiri.
Intinya, dari pertemuan itu aku melihat bahwa di MClean, setiap sepatu diperlakukan dengan hati-hati dan penuh kejujuran. Jika ada noda yang memang tidak bisa hilang, mereka akan mengomunikasikannya apa adanya.
Pelajaran dari Cerita Usaha MClean Wash and Care
Banyak pelajaran yang bisa kuambil dari cerita usaha jasa cuci sepatu MLean milik Mbak Nabila dan suami. Mulai dari soal mental berbisnis itu bisa dibentuk bukan hanya karena keadaan, belajar soal etika buka cabang, hingga soal dalam berbisnis jalani aja dulu, sambil jalan kita juga bisa belajar.
Seperti halnya harapan dari Mbak Nabila yang suatu hari ingin buka cabang juga di luar kota. Sambil sekarang belajar soal manajemen, keuangan, dan lain-lain. Dan inilah beberapa pelajaran yang bisa dijadikan insight untuk pemula dalam berbisnis.

- Mentalitas “Bukan Karena Keadaan”
Mbak Nabila membuktikan bahwa berbisnis adalah pilihan mental. Meski memiliki latar belakang ekonomi yang mapan dan pekerjaan tetap (pengacara/dosen), ia memilih merintis dari nol. Ini mematahkan mitos bahwa orang berbisnis hanya karena “kepepet” ekonomi.
- Prinsip “Jalan Dulu, Sempurnakan Sambil Berjalan”
Nasihat sang suami untuk “nggak usah mikir gimana-mana, yang penting jalan dulu” adalah obat paling ampuh buat pemula yang sering terjebak overthinking. Skala prioritas awal adalah eksekusi, baru kemudian sistemasi.
- Pentingnya Edukasi & Manajemen Ekspektasi
Dalam bisnis jasa, musuh terbesar adalah ekspektasi pelanggan yang tidak realistis. Keberanian Mbak Nabila mengedukasi bahwa mereka “mencuci bukan mengganti baru” adalah bentuk integritas layanan agar tidak terjadi konflik di kemudian hari.
- Legalitas Sebelum Ekspansi
Pelajaran mahal tentang etika buka cabang: Jangan ekspansi sebelum legalitas (HAKI/Merek) aman. Ini adalah insight krusial yang sering dilupakan pebisnis pemula karena terlalu bernafsu mengejar jumlah cabang.
- Diferensiasi di Tengah Persaingan
Saat kompetitor mulai ada di area Stadion Blitar, MClean bertahan dengan menjaga kualitas (review rutin 1 bulanan untuk karyawan) dan menambah variasi layanan racing apparel, cuci helm, stroller, dll) yang tidak dimiliki pesaing.
- Totalitas Pemasaran Tradisional
Cerita tentang menyimpan brosur di tas dan membagikannya ke setiap orang yang ditemui menunjukkan bahwa di tahap awal, founder adalah sales terbaik bagi bisnisnya sendiri.
Itulah cerita usaha dari MClean, banyak pelajaran penting, terutama untuk pebisnis pemula. Semoga bermanfaat dan tunggu cerita usaha selanjutnya ya!
***