Cerita Usaha Es Teh Surakarta: Harapan, dan Perjuangan

Cerita Usaha Es Teh Surakarta: Merawat Customer dengan Kualitas Rasa
Bisnis Es Teh di Blitar dan cerita dengan ownernya

Aku mengenal pemilik Es Teh Surakarta saat bertemu di kelas keuangan Blitar Cahpreneur. Dari pertemuan itu, aku berkenalan dengan sang istri, Mbak Eka, yang ternyata usianya belum genap 25 tahun, tetapi sudah merintis usaha bersama suaminya.

 

Salut rasanya melihat anak-anak muda yang berani memulai usaha sejak dini. Kadang aku sampai bertanya sendiri, “Dulu, sebelum usia 25 tahun, aku ngapain saja, ya?” Hehe.

 

Mbak Eka awalnya terlihat pemalu, mungkin karena baru pertama kali mengikuti kegiatan di BCP. Ia sempat berkata bahwa yang lebih sering aktif mencari relasi dan mengikuti kegiatan adalah sang suami. Di rumah, Mbak Eka juga memiliki peran penting karena sudah ada anak kecil yang harus dirawat dengan penuh perhatian.

 

Sebulan kemudian, aku berkesempatan mengunjungi langsung tempat usaha mereka di Jalan Tanjung. Sebuah outlet Es Teh Surakarta yang berdiri kokoh di tepi jalan, sederhana, namun menjadi cikal bakal perjuangan mereka dalam membangun usaha demi keluarga. Tempat itu menjadi saksi bahwa usaha ini dirintis dengan kerja keras dan kesungguhan.

 

Table of Contents

Merintis Usaha Es Teh Surakarta

Ngobrol bersama owner es teh surakarta

“Pernah sehari hanya dapat tujuh ribu, Mbak. Sejak itu kami terus belajar. Eksplor lagi, tanya ke pelanggan soal rasa,” cerita Mbak Eka.

Usaha Es Teh Surakarta sendiri sudah berdiri sejak tahun 2023 dan pertama kali buka di Jalan Tanjung, tepatnya di depan toko baju MuraSae. Awalnya, aku sempat heran dengan nama “Es Teh Surakarta”. Rasa penasaran itu akhirnya terjawab ketika Mbak Eka dan Mas Aldo menceritakan awal mula usaha ini berdiri.

 

“Awalnya keluarga suami datang ke Blitar bawa teh karena memang orang Solo. Tapi tehnya orang Solo itu terlalu pahit, Mbak, jadi kurang cocok di lidah orang Blitar,” ujar Mbak Eka.

 

Cerita pun berlanjut, kadang diselingi penjelasan dari Mas Aldo. Sebelum benar-benar memutuskan membuka usaha es teh, mereka melakukan riset selama beberapa hari. Mulai dari mencari jenis minuman yang bisa bertahan lama di pasaran hingga menyesuaikan dengan target pasar.

 

Awalnya, Mbak Eka sempat ingin berjualan es coklat. Namun setelah dipertimbangkan, target pasarnya dirasa kurang menyeluruh. Dari situ, mereka kembali mencari ide dan akhirnya memilih es teh Surakarta. Teh yang digunakan memang berasal dari Solo, tetapi diracik ulang agar bisa diterima oleh lidah orang Blitar.

 

Selama lebih dari sebulan, mereka terus bereksperimen dengan rasa. Setiap pelanggan yang datang selalu ditanya pendapatnya. Banyak yang mengatakan tehnya masih terlalu pahit. Maklum, teh Solo memang punya karakter pahit yang kuat. Setelah melalui berbagai percobaan dan racikan ulang, akhirnya ditemukan komposisi rasa yang pas.

 

Sebagai orang yang bukan pencinta teh, aku pun ikut merasakan perbedaannya. “Aku memang bukan pencinta teh, Mbak. Tapi aku bisa merasakan es teh Surakarta ini beda. Awalnya terasa biasa, tapi di akhir ada sensasi pahit yang justru unik,” kataku saat itu.

 

Nama Es Teh Surakarta sendiri dipilih karena sebagian besar teh yang digunakan didatangkan dari Solo. Sementara brand ‘es teh Solo’ sudah lebih dulu dikenal sebagai kompetitor, akhirnya dipilih nama Surakarta, nama Sansekerta dari Solo, yang terasa lebih khas meski belum terlalu populer.

 

Menjaga Pelanggan  dengan Konsistensi Rasa

Bisnis teh di Blitar

“Wong siji iso nekakne wong sepuluh. Tapi wong siji iki yo iso ngedang-ngedangu wong sepuluh.”

Kalimat dari Mas Aldo itu membuatki terdiam sejenak. Prinsip sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Satu pelanggan bisa membawa sepuluh pelanggan lain, tetapi satu pelanggan juga bisa menjauhkan sepuluh calon pelanggan.

 

Pengalaman mereka membuktikan hal tersebut. Beberapa kali, Es Teh Surakarta mendapat pesanan untuk rapat, reuni, hingga acara di dinas, sekolah, dan komunitas.

 

Saat aku bertanya apa yang membuat Es Teh Surakarta berbeda di tengah banyaknya kompetitor, jawabannya sederhana: konsistensi kualitas. Pelanggan bisa request tingkat gula sesuai selera, dan kualitas teh benar-benar diperhatikan.

 

Aku juga baru tahu bahwa kualitas teh bisa berubah jika disimpan lebih dari tiga jam. Namun, menurut Mbak Eka, setiap jenis teh memiliki perlakuan berbeda. Ada teh tawar yang kualitas rasanya bisa bertahan hingga hampir 12 jam.

 

“Kami benar-benar menjaga kualitas rasa. Nggak cuma sekadar teh manis, tapi pelanggan bisa request gula. Karena prinsipnya, kami juga harus memposisikan diri sebagai pembeli,” jelas Mbak Eka.

Dari cara Mas Aldo bercerita, aku belajar bagaimana memperlakukan pelanggan dengan sepenuh hati. Setiap keluhan ditampung, mulai dari takaran gula, kualitas teh yang harus dibuang jika sudah terlalu lama, hingga detail kecil seperti penggunaan sirup. Hal-hal seperti inilah yang penting dalam usaha F&B.

 

Ketika Masalah Datang Tak Terduga

Usaha es teh dengan beragam kendalanya

“Tentu saja ada masalah. Kadang yang bikin nggak habis pikir, bukan karena karyawan, tapi justru tempat yang kita tempati bermasalah,” ujar Mas Aldo.

 

Perjalanan usaha mereka juga diwarnai kendala di luar dugaan. Mulai dari tempat berjualan yang ternyata membuat karyawan tidak nyaman, hingga kerja sama yang tiba-tiba dihentikan meski kontrak belum habis karena pemilik tempat ternyata ingin membuka usaha es teh sendiri.

 

Dari situ, aku belajar bahwa usaha memang membutuhkan perjuangan ekstra, bukan hanya soal produk, tetapi juga mental untuk menghadapi situasi tak terduga.

 

Harapan: Ada Keluarga yang Terus Diperjuangkan

“Kadang ada orang yang lapar bukan karena nggak bisa makan, tapi memang nggak ada yang dimakan.”

Bagian ini membuat aku terdiam cukup lama. Mas Aldo bercerita bahwa sebelum usaha es teh ini, ia pernah menjalani masa sulit. Pernah berjualan jam tangan, tetapi tren berubah ke smartwatch dan penghasilannya turun drastis.

 

“Dulu aku pernah minta Eka berpuasa beberapa hari, Mbak. Bukan karena nggak bisa makan, tapi memang nggak ada yang bisa dimakan,” ucapnya lirih. Sorot matanya menerawang ke jalanan ramai, seolah menyimpan banyak kenangan pahit.

 

Pengalaman itulah yang membuat mereka bertekad mengembangkan usaha ini. Mas Aldo juga mengenang masa kecilnya, saat lauk hanya ada jika ayahnya pulang pulang dari kenduren. Ia tak ingin hal yang sama dialami anaknya.

 

Meski di awal merintis usaha anak-anak sering ikut bermain, tidur siang, dan makan di outlet pinggir jalan, sorot mata Mbak Eka dan Mas Aldo menyimpan harapan besar: memberikan kehidupan yang lebih baik untuk keluarga.

 

Cerita itu juga mengingatkanku pada masa kecil sendiri, tentang kemiskinan yang memaksa kita bertahan dan berjuang habis-habisan.

 

Kesimpulan Cerita Usaha Es Teh Surakarta

Pelajaran dari bisnis Es Teh

Semua usaha dimulai dari keberanian untuk mencoba, meski hasil awal sangat kecil dan penuh keraguan. Dan inilah beberapa pelajaran usaha yang bisa kudapatkan dari cerita Es Teh Surakarta

 

     

      • Mendengar pelanggan adalah bagian penting dari proses belajar, karena dari situlah kualitas produk bisa berkembang.

      • Konsistensi rasa menjadi kunci membangun kepercayaan, bukan sekadar harga murah atau tren sesaat.

      • Pelanggan yang puas akan menjadi promosi paling jujur, membawa pelanggan lain dengan sendirinya.

      • Masalah adalah bagian dari perjalanan usaha, bukan alasan untuk berhenti, melainkan bahan evaluasi

      • Motivasi terbesar sering lahir dari pengalaman hidup yang sulit, terutama demi keluarga.

      • Usaha bukan hanya tentang keuntungan, tetapi tentang proses panjang yang membentuk mental, karakter, dan cara memandang hidup.

    Terima kasih sudah berbagi cerita dan pelajaran hidup. Semoga selalu sehat, rezekinya lancar, dan Es Teh Surakarta terus tumbuh serta berkembang. *** (17 Desember 2025)

    QNA 'Cerita Usaha'

    Siapa saja yang bisa diliput ceritanya di blog ini?

    Semua pelaku usaha bisa, baik UMKM, brand lokal, usaha rumahan, hingga bisnis yang sedang berkembang. Tidak harus besar atau viral, yang penting punya cerita dan proses yang inspiratif.

    Apakah usaha yang masih kecil atau baru mulai boleh diliput?

    Justru sangat boleh. Blog ini fokus pada proses, perjuangan, dan pembelajaran, bukan hanya hasil besar. Usaha yang masih merintis sering kali punya cerita yang paling relevan bagi pembaca.

    Apa manfaat usaha saya diliput di blog ini?

    Selain sebagai dokumentasi perjalanan usaha, liputan ini membantu memperkenalkan brand secara personal, membangun kepercayaan, dan memperluas jangkauan pembaca yang tertarik pada cerita bisnis lokal.

    Apakah liputan ini bersifat promosi atau cerita?

    Liputan ditulis dalam bentuk cerita (storytelling), bukan iklan. Fokusnya pada perjalanan usaha, tantangan, dan nilai yang dibangun, sehingga terasa lebih natural dan autentik.

    Bagaimana cara mengajukan usaha saya untuk diliput?

    Owner bisa menghubungi melalui [email anisaalfinurfadila@gmail.com) lalu akan diarahkan ke tahap selanjutnya.

    Comments

    No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *