Pengalaman Rawat Inap di Klinik Siti Khodijah Blitar

Pengalaman Rawat Inap di Klinik Siti Khodijah Blitar
Pertama kali rawat inap di klinik siti khodijah blitar

Udah hampir 3 hari lebih di Bulan Ramadan lalu, anakku demamnya naik turun. Nggak mau makan sama sekali. Pas disuruh makan, selalu mau muntah. Akhirnya coba periksa di Klinik Siti Khodijah yang berada di depan hotel Puri Perdana, Blitar

 

Sebenarnya aku bukan pertama kali ke klinik ini, karena sejak masih hamil, ya periksa kandungan selalu di sini. Apalagi saat hari-hari biasa sakit, langsung ke sini karena faskes BPJS punyaku ya di klinik yang dikelola organisasi NU ini. 

 

Nah, ceritanya anakku hampir 5 hari muntah-muntah, demam naik turun, karena makan makanan yang tidak higienis. Sempat cek lab juga, ternyata gejala tipes dan harus opname. Dan ini cerita pengalaman rawat inap di Klinik Siti Khodijah di bulan Maret ini.

Table of Contents

Rawat Inap Tetap Bisa Pakai BPJS, Meski Faskesnya Beda

Lokasi Klinik Siti Khodijah Blitar

Semenjak berangkat di hari Minggu pagi itu aku udah feeling kalau bakalan rawat inap. Dan pagi itu juga udah ngecek BPJS, biar bisa pindah faskes karena kebetulan anakku faskesnya di puskesmas yang kalau hari Minggu pelayanan umum tutup. 

 

Setelah diicoba berulangkali namun gagal terus, akhirnya  tetep berangkat aja ke klinik, karena kasihan melihat Nismara yang lemas karena nggak mau makan sama sekali. Kalau lekas dibawa ke klinik, semoga cepat dapat penangan agar lekas sembuh. 

 

Sesampainya di klinik, proses pendaftaran berjalan cukup lancar. Petugas menanyakan beberapa informasi dasar seperti nama, riwayat berobat, hingga keluhan utama. Bagi pasien yang baru pertama kali berkunjung, biasanya akan diberikan kartu berobat untuk memudahkan proses administrasi di kemudian hari.

 

Kebetulan kartu berobat Nismara hilang, tetapi petugas dengan sigap mengecek data dan ternyata riwayat pemeriksaan sebelumnya sudah terekam di sistem. Setelah itu, kami diminta menunggu di depan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Alhamdulillah, waktu tunggunya tidak lama, kurang dari lima menit kami sudah dipanggil oleh petugas jaga.

 

Karena saat itu adalah akhir pekan, pemeriksaan pasien umum dialihkan ke ruang IGD. Perawat dengan ramah menanyakan detail gejala yang dialami Nismara, mulai dari frekuensi muntah hingga riwayat demamnya.

 

Saat dicek dengan termometer, suhu tubuhnya ternyata cukup tinggi, mencapai 39 derajat Celcius. Nismara tampak sangat lemas dan tidak berdaya, bahkan untuk menolak termometer yang diselipkan di ketiaknya pun ia seolah tak punya tenaga.

 

Mengingat demamnya sudah berlangsung lebih dari tiga hari dan ia sulit makan, perawat pun meminta persetujuan untuk melakukan cek darah. Tanpa ragu, aku mengiyakan, demi mengetahui penyebab pasti kondisinya dan agar segera mendapatkan pengobatan yang tepat.

 

Proses pengambilan darah pada anak memang menantang. Dengan penuh kesabaran dan keahlian, para perawat akhirnya berhasil mengambil sampel darah Nismara, meski diiringi tangisan histerisnya karena rasa sakit jarum suntik. Setelahnya, kami menunggu hasil laboratorium di luar.

 

Kurang dari satu jam, tepatnya sekitar 15 menit, hasil lab pun keluar. Benar saja, diagnosanya mengarah pada gejala tipes. Meskipun nilai positifnya masih di level satu (1), tetapi mengingat kondisi Nismara yang sama sekali tidak mau makan, perawat saat itu merekomendasikan untuk rawat inap.

 

Aku sempat khawatir bakalan ada tagihan kamar untuk rawat inap karena BPJS Nismara ada di puskemas, bukan di klinik ini. Tapi saat tahu kalau ternyata gratis, aku mempertimbangkan untu menyetujuinya, karena kalau rawat jalan pasti bakalan lebih lama sembuhnya.

Kamar Rawat Inap yang Nyaman dan Ruangannya Luas

Kamar rawat inapnya nyaman dan luas banget

Pengalaman pertama mendampingi anak rawat inap di Klinik Siti Khodijah ternyata sangat berkesan dan melampaui ekspektasi. Fasilitas yang ditawarkan cukup lengkap, dan yang paling penting, perawat serta dokternya sangat ramah dan perhatian terhadap pasien.

 

Kami mendapatkan kamar rawat inap bernama “Mekkah”. Kamar ini tipe semi-private yang hanya diisi oleh dua orang pasien dengan kamar mandi dalam. Kesan pertama saat masuk kamar adalah: luas banget! Bahkan menurutku, ruangan sebesar itu sebenarnya bisa untuk empat pasien, tapi Klinik Siti Khodijah sepertinya mengutamakan kenyamanan pasiennya dengan memberikan ruang gerak yang luas.

 

Di dalam kamar, tersedia televisi (walaupun saat itu  mati tak berfungsi mungkin jarang dicek), dan lemari kecil untuk menyimpan perlengkapan pasien, standar seperti di rumah sakit pada umumnya. Kamar mandi dalamnya pun lumayan luas dan sudah menggunakan toilet duduk.

 

Klinik ini sepertinya tidak menerima terlalu banyak pasien rawat inap. Di lantai bawah, aku hanya melihat sekitar 7 kamar, sedangkan untuk lantai dua kurang tahu karena tidak sempat mengecek ke atas.

 

Meskipun ruangannya luas dan nyaman, ada satu hal yang sedikit mengganggu kenyamanan, yaitu pasien sebelah. Saat itu, teman sekamar Nismara adalah anak laki-laki yang sepertinya sering tantrum dan berteriak-teriak. 

 

Ingin rasanya marah atau komplain, tapi mengingat mereka masuk lebih dulu, aku urungkan niat tersebut. Bahkan saat Nismara sedang tidur nyenyak pun, tidurnya sempat terganggu oleh kebisingan dari sebelah. Sabar ya, Nakk. Ini jadi salah satu pengalaman suka duka rawat inap.

Menu Makanan yang Bergizi Sehari Tiga Kali

Momen yang paling mengharukan adalah ketika Nismara akhirnya mau makan nasi. Saat itu bertepatan dengan jam makan siang, dan ia baru saja selesai menangis kelelahan setelah dipasangi infus. Begitu melihat porsi nasi tim yang disajikan, nafsu makannya seolah kembali.

 

Mual-mual yang membuatnya tidak mau makan selama beberapa hari terakhir sepertinya hilang begitu saja. Bahagia rasanya melihatnya makan dengan lahap.

 

Di Klinik Siti Khodijah, porsi makanannya terbilang pas untuk anak-anak maupun dewasa. Nasi yang disajikan bertekstur lembut, mirip nasi tim, sehingga mudah dicerna. Pilihan lauk pauknya juga bervariasi setiap hari, dan sayurnya dimasak dengan bumbu yang pas, tidak pedas, sehingga aman untuk anak-anak. Menu makanannya diberikan tiga kali sehari dengan variasi menu yang berbeda-beda, jadi tidak membosankan.

 

Yang menarik, karena saat itu bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, setiap sore hari, selalu ada porsi tambahan berupa 3 butir kurma untuk berbuka puasa. Aku sangat mengapresiasi perhatian dan pelayanan detail seperti ini dari pihak klinik.

 

Kesimpulan

Dapat pengalaman yang berkesan setelah menjalani proses rawat inap di Klinik Siti Khodijah Blitar benar-benar mengubah pandanganku tentang fasilitas kesehatan tingkat pertama.

 

Meskipun awalnya sempat khawatir soal administrasi BPJS yang berbeda faskes, ternyata penanganannya sangat memudahkan dan tetap mengutamakan keselamatan pasien.

 

Kenyamanan kamar yang luas, keramahan tenaga medis, hingga menu makanan yang terjaga kualitasnya menjadi nilai plus yang membuat proses pemulihan Nismara jadi lebih cepat. Buat para orang tua di Blitar, jangan ragu untuk segera membawa si kecil ke klinik terdekat jika gejala sakit sudah tidak bisa ditangani di rumah.

 

Kesehatan anak tetap yang utama, dan pengalaman di Klinik Siti Khodijah ini membuktikan bahwa pelayanan kesehatan yang baik tidak harus selalu mewah, tapi harus nyaman dan solutif. ***

 

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *