Review Taman Djajan Aliza Blitar, Tempat WFC yang Murah 

Review Taman Djajan Aliza Blitar, Tempat WFC yang Murah

taman djajan aliza

Sebenarnya bukan pertama kali aku datang ke Taman Jajan Aliza Blitar mungkin sudah ketiga kali ini. Pertama kali datang dulu karena ada pertemuan rabuan dari TDA Blitar. Aku memang sengaja ingin ikut pertemuan karena ingin berdiskusi dengan para owner, untuk belajar berbisnis.

 

Baru-baru ini aku mendengar kabar jika Taman Djajan Aliza sedang ada masa penentuan dalam jangka satu tahun ini, nantinya tetap dipertahankan, dan diperjuangkan, atau harus direlakan. Mungkin karena aku membaca dalam percakapan grup tersebut, aku merasa ikut andil untuk ikut bersuara, meski hanya dalam tulisan. Mungkin saja berguna. 

 

Akhirnya pada awal bulan Mei lalu, aku mencoba pindah tempat WFC, dari yang awalnya di Cafe Blitar ke Taman Djajan Aliza. Mencoba untuk mencari sisi yang mungkin bisa diperbaiki, dan sisi yang harus dipertahankan. Jika nantinya ada tulisan yang kurang menyenangkan, mohon dimaafkan. 

Table of Contents

WFC itu Mencari Kenyamanan Agar Pikiran Produktif

WFC di Blitar

Hal pertama yang kulakukan ketika datang adalah mencari tempat duduk yang nyaman. Sebenarnya ada banyak pilihan tempat duduk, mulai dari bagian depan outlet bagian barat, sampai di sisi bagian utara. 

 

Bagiku pemilihan tempat duduk itu juga menjadi hal penting selama WFC karena nantinya kita akan berjam-jam berpikir dan melakukan pekerjaan di sana. Saat itu aku memilih di bagian utara, tepatnya di tempat duduk panjang yang ada sofanya. 

 

Mungkin Taman Jajan Aliza memang memiliki konsep  keluarga, untuk acara, jadi spot tempat duduk yang hanya berdua untuk WFC itu tidak tersedia. Apalagi konsep tempat makan keluarga yang berada di sekeliling Aliza juga nggak hanya satu, jadi mungkin segmennya bisa diubah atau perlu dikuatkan saja. 

 

Hari itu aku memang sengaja WFC di Aliza hampir setengah hari, untuk menikmati kondisi dan hal-hal apa saja yang bisa kutemukan di sini. Mungkin bagi orang lain WFC itu ya kerja di cafe mana aja bisa, padahal sebenarnya juga harus mencari dan menemukan kenyamanan agar lebih produktif untuk berpikir. 

 

Ada beberapa hal yang mungkin membuat kurang nyaman, apalagi saat itu siang hari yang terik dan panas banget. Kipas angin yang berputar dengan intensitas paling tinggi pun tak meredakan gerah dan pengap. Apa mungkin karena ventilasinya kurang, atau karena cat hitam yang menyerap panas. Entah.

 

Aku hanya menilai sebatas pengalaman beberapa jam di sana. Suasananya yang hening, tak terlalu ramai orang-orang melintas mungkin bisa jadi poin tambah, tapi jika teriknya matahari sulit diatasi dengan berbagai fasilitasnya, brati mungkin ke sini saat sore atau malam saja. Saat matahari bersikap ramah kepada kita.

 

Harganya Terjangkau, Cocok untuk Anak Muda Budget Minim

 

Sebenarnya dari sisi harga, menunya di sini terjangkau banget. Bahkan kopi pagi aja ada yang harganya 8 ribuan. Kan murah untuk ukuran mahasiswa atau fresh graduate yang belum punya penghasilan stabil, ya. 

Ada juga cemilannya yang masih ada under 10k, mulai dari kentang goreng, sempol, dan masih  banyak yang lainnya. Sebenarnya di sini kita bisa tinggal memilih makanan atau minuman dari berbagai outlet yang tersedia. 

 

Kemarin aku beli kopi yang 8 ribuan,  rasanya sesuai dengan harga. Cukup bisa membantu di kala beban pikiran menumpuk di kepala. Untuk snacknya nggak beli apa-apa, karena kebetulan pas lagi tutup yang kedai khusus jualan cemilan. 

 

Nah, yang perlu disayangkan nih untuk makanan beratnya tidak ada di sini. Karena saat itu kebetulan bertepatan dengan jam makan siang, jadi mau pesan makanan berat nggak ada akhirnya cari di luar. 

 

Sebenarnya taman djajan aliza itu cocok banget juga untuk anak muda yang punya budget minim, karena ada cilot, sempol yang terjangkau, dan kopinya ada pilihan yang murah juga. Mungkin jika ditambahkan seperti ada jajanan pasar, nasi pecel, serta nasi kotak, lebih mendukung lagi. Hehe.

 

Taman Djajan Aliza Masih Harus Hidup

taman djajan aliza

Jujur, aku sangat mendukung jika Taman Jajan Aliza itu terus hidup hingga tahun-tahun ke depan. Mungkin kenanganku di sini nggak terlalu banyak, hanya saja melihat cerita kenangan orang lain, bagiku sama saja membagun kenangan untuk diriku juga. 

 

Dari segi fasilitas juga termasuk lengkap, karena ada kamar mandi, mushola yang butuh dibersihkan rutin, hingga lahan parkir yang luas. Barangkali segmennya lebih diperjelas lagi, karena nantinya yang bakal menghidupkan nyawa dari Aliza bagian dari hal itu. 

 

Bisa saja beralih ke working space karena saat ini sedang tren anak muda yang suka wfc, bisa juga tetap menguatkan untuk keluarga, dengan banyak poin yang harus diperbaiki.

 

Mungkin bisa ditawarkan untuk tempat meeting, acara, dan lain-lain. Mulai dari ketersediaan menu, sosmed marketing jalan, sampai manajemennya. 

 

Sebenarnya aku hanya blogger blitar yang suka menikmati dan mengamati, tapi jika butuh diajak sharing soal sosmed, blog, dan menulis, aku sangat menerima ajakan itu dengan senang hati. Hehe. Salam kenal dari Anisa Alfi. ***

 

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *