Komunitas Bisnis di Blitar, Ini Pengalaman Gabung di SBC Blitar

Komunitas Bisnis di Blitar, Ini Pengalaman Gabung di SBC Blitar

bisnis di blitar

Hampir dua tahun ini aku gabung di komunitas bisnis di Blitar, sejak 2024 akhir ketika gabung di Blitar Cahpreneur. Saat itu aku belum terlalu tertarik di dunia bisnis, hanya sekadar ikut-ikutan untuk tambah teman. 

Namun, di akhir tahun ini ketertarikan itu mulai bertambah, apalagi ketika bisnis di bidang digital agency ini mulai diserahkan kepadaku. Dan sejak awal tahun 2026, mulai belajar bagaimana harus berbisnis, punya teman yang saling support di Cahpreneur, dan ternyata berbisnis menyenangkan juga. 

Mungkin setelah lebaran, aku mulai mencari ada sesuatu yang kurang ketika aku menekuni dunia bisnis. Ya, ilmunya. Kalau di Cahpreneur lebih ke bagaimana diskusi dan menjalin relasi dengan anak muda, sering nongkrong, tapi aku butuh step ilmu baru. Akhirnya menemukan lagi komunitas bisnis islami bernama Sukses Berkah Community, atau SBC Blitar. 

Pengalaman Pertama Ikutan SBC Blitar

Lupa tepatnya pertama kali gabung di KPB Gabungan yang diadakan Komunitas bisnis SBC di Kalapadi Cafe Blitar. Mungkin sekitar bulan Mei 2026 yang membahas tema Basic Training. Pertemuan pertama itu aku mengajak Maya dan Putri, keduanya kebetulan teman di Cahpreneur. 

Mungkin pertama kali gabung di sini agak sedikit terkejut. Mulai mengenal beberapa perempuan yang berhijab lebar dan memakai niqab. Meski sebenarnya aku juga pakai hijab lebar, sih. Hehe. Selain itu ada hal-hal yang harus dilakukan sebelum masuk materi utama. 

Jadi setelah dibuka oleh MC, lanjut membaca tilawah dan ikrar 3 karakter SBC yang terdiri dari karakter pribadi, karakter bisnis, dan karakter muslim. Seolah dengan ikrar tiga karakter ini yang selalu dibacakan setiap awal pertemuan menjadi pengingat bahwa karakter ini harus dimiliki dan diterapkan setiap hari. 

Pengalaman pertemuan-pertemuan awal mungkin masih canggung, dan sedikit aneh. Tapi, lambat laun makin terbiasa, apalagi mendapat banyak insight dan pelajaran dari para pebisnis muslim yang omsetnya sudah milyaran. Namun, yang paling membekas sebenarnya ketika berada di KPB mandiri, atau kelompok pendampingan bisnis bersama mentor. 

Jadi, pertemuan yang diadakan setiap bulan merupakan KPB gabungan yang nantinya akan dipilihkan beberapa mentor untuk memlndampingin selama proses belajar. Kebetulan aku dan Putri satu kelompok yang mendapatkan mentor dari Manamu, yaitu Mas Fahri. 

Dapat Mentor KPB dari MANAMU 

“Mungkin dipertemukan dengan Manamu  menjadi jalan takdir yang sudah dipersiapkan Allah,” 

Itulah yang pertama kali kurasakan ketika pertemuan pertama KPB di cafe Mata Hati Blitar. Alasannya sederhana, Mas Fahmi selaku mentor merupakan pemilik dari Manamu, yang memiliki makna Manajemen Mukminin. Kebetulan sekali aku sedang ingin belajar soal manajemen, entah manajemen diri, waktu, bisnis, dan masih banyak hal lainnya. 

Pertemuan pertama untuk KPB mandiri terasa sangat membekas, karena di sini aku diajak merenungkan diri, alasan harus berbisnis, apa yang sebenarnya dicari setelah berbisnis, padahal bisnis hanya kendaraan. Pada intinya, pertemuan pertama ini seolah membuka pikiran bahwa tujuan utama seseorang hidup di dunia adalah untuk Allah..

Meski sebenarnya prinsip dan tujuan berbisnis untuk Allah masih terasa jauh bagiku, tapi aku menemukan satu poin tersendiri yang nantinya bakal menemukan Tuhan ketika aku sudah mengenal diri sendiri. Selain itu, kamu juga diajak membuat 10 komitmen yang harus dilakukan selama satu bulan. Sepuluh komitmen itu tidak perlu yang wah, tapi pada intinya sederhana dan berdampak. 

Kalau aku menulis komitmen yang sederhana saja, mulai dari menulis 3 prioritas setiap hari, belajar dan berbagi ilmu di YouTube, hingga qiyamul lail setiap hari. Sederhana tapi ternyata tidak mudah, ya. Hehe. 

Pertemuan Kedua, Baru Mendapat Hidayah

Pada pertemuan KPB kemarin yang diadakan di cafe temen nongkrong, tak terlalu banyak yang dibahas, masih seputar big why dan mindseat owner dalam berbisnis. Serta menanyakan komitmen yang selama ini ditulis dan harus dilaksanakan. 

Meski tak terlalu lama dibandingkan pertemuan pertama, tapi aku mendapatkan satu insight, yang mungkin bisa dibilang hidayah. Kami sempat berdiskusi panjang sebenarnya soal tujuanku berbisnis bukan karena Allah. Surga dan neraka itu masih terasa abstrak, karena aku sendiri masih ingin mengenali diri sendiri, yang nantinya aku percaya juga akan mengenal siapa sebenarnya Gusti Allah. 

Hidayah dari pertemuan kedua sebenarnya sederhana, berulangkali setiap pertemuan selalu membahas tentang sukses itu kapasitas. Namun baru pertama kali aku memahami tentang hal ini. Kalau aku ingin sukses dunia dan akhirat, ya berawal dari bertanggung jawab dengan komitmen yang sudah dibuat. Sederhana, kan. Apalagi komitmen yang kubuat sudah mencakup 4L, bagaimana hubungan dengan Allah, sesama, keluarga, dan diri sendiri. 

Kalau komitmen yang dibikin saja sering mangkir, sering lalai, lalu bagaimana mau sukses kalau pondasinya saja belum kokoh yang dibentuk dari komitmen yang ditulis sendiri. Ya Allah, ternyata sesederhana itu bisa berdampak banget dengan tujuan hidup. 

Makanya setelah pertemuan kedua hari kemarin, aku menyadari satu hal, bahwa hidup itu terkadang sudah ditunjukkan banyak jawaban, namun seberapa kita peka untuk mendapatkannya. Dan hidayah kadang datang dengan jalan tak terduga. 

Kesimpulan 

Banyak hal sebenarnya yang dipelajari dari mengikuti SBC Blitar, cocok banget untuk kalian yang ingin belajar berbisnis, tapi juga belajar memperbaiki hidup. Karena tujuan akhirnya bukan soal bisnis, tapi bagaimana cara menjadi makhluk yang bermanfaat untuk diri sendiri, orang lain, dan sekitarnya. Mau join juga? Bisa langsung cek di media sosialnya ya untuk wilayah Blitar di @sbcblitar karena ternyata komunitas ini juga ada di seluruh Indonesia.  ***

 

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *