
Ada masa ketika aku hanya seorang penulis yang menghabiskan hari-hari memikirkan alur cerita, menata diksi, dan memainkan tokoh sesuai mood yang kuinginkan. Dunia itu terasa aman, penuh kendali, karena akulah yang menentukan nasib setiap karakter di atas kertas. Namun satu tahun belakangan, aku memutuskan melangkah ke dunia yang jauh lebih asing daripada dunia fiksi manapun: dunia bisnis.
Awalnya, dunia ini terasa menyeramkan. Bukan karena bisnis itu sendiri menakutkan, tapi karena aku terlalu lama terjebak dalam zona nyaman dan pikiran-pikiran yang membatasi. Aku sadar, untuk bertumbuh, aku harus berdamai dengan ketidaktahuan, dan mengakrabi hal-hal yang dulu terasa jauh dari duniaku.
Pelan-pelan, aku belajar bahwa berpindah dunia bukan berarti meninggalkan jati diri lama. Aku masih penulis yang sama, hanya saja kini kertasnya berganti menjadi kehidupan nyata. Di titik inilah aku merasa Allah menuntunku lewat jalan yang tak pernah kuduga, salah satunya lewat sosok yang selama ini menjadi support system dalam proses berkembang ini.
Kami mungkin tidak memiliki ikatan jodoh menurut hitungan Jawa, tapi dalam makna nama, kami saling menyatu, seperti seribu cahaya yang sama-sama mencari jalan untuk menemukan arti hidup.
Di titik ini pula, aku mulai menghitung ulang seberapa banyak nikmat yang sudah diberikan-Nya. Mulai dari dipertemukan dengan teman-teman muda di komunitas bisnis yang selalu suportif dan sabar menunggu setiap proses, hingga ditunjukkan jalan untuk mengenal orang-orang baik yang senantiasa membagikan rumus hidup, bahwa berbisnis pun bisa menjadi kendaraan menuju-Nya.
Ketika Tidak Tahu Harus Mulai dari Mana

Semua ini bermula dari satu kalimat sederhana yang kuucapkan sepulang dari Surabaya, bulan Juni lalu: “Kok aku pengen punya agensi MCN, gimana caranya, ya?” Kalimat itu terdengar ringan, tapi menjadi titik awal dari perjalanan panjang yang penuh liku.
Aku mulai mencari tahu prosesnya dari nol. Aku tahu bahwa untuk membangun agensi MCN, aku harus lebih dulu menjadi certified trainer dari TikTok. Masalahnya, aku benar-benar tidak tahu harus bertanya ke siapa. Aku browsing sana-sini, bertanya ke teman, tapi hasilnya nihil. Informasi soal jalur sertifikasi ini rasanya tertutup rapat, apalagi saat itu website pendaftarannya pun belum dibuka.
Aku sempat berpikir, mungkin peluangku kecil karena tidak punya kenalan di industri ini. Tapi di sinilah aku belajar satu hal penting: ketika usaha manusia terasa mentok, selalu ada jalan langit yang bekerja diam-diam. Tiba-tiba, di bulan Juli, seorang mbak dari Malang yang sebelumnya pernah kukirimi pesan, mengabarkan informasi tentang cara mendapatkan sertifikasi ini. Aku bahkan tidak menyangka pesan yang kukirim beberapa minggu sebelumnya akan berbuah jawaban. Dari situ, jalan yang tadinya buntu perlahan mulai terbuka.
Momen ini mengajarkanku bahwa rezeki dan pertolongan sering datang dari arah yang tidak pernah kita duga. Yang perlu kita lakukan hanyalah terus berusaha, bertanya, dan percaya bahwa Allah punya cara sendiri untuk menuntun langkah kita.
Ujian Menuju Certified

Setelah mendaftar melalui link resmi, tak lama kemudian aku dihubungi oleh pihak yang membantu proses seleksi certified trainer TikTok. Ternyata, jalan menuju sertifikasi ini tidak semudah yang kubayangkan. Ada tiga tahap ujian yang harus kulalui: ujian tulis, presentasi, dan wawancara.
Selama menjalani rangkaian ujian ini, hari-hariku terasa berat dan sesak. Bukan karena materinya semata, tapi karena tekanan psikologis bahwa aku harus lulus, harus berhasil, karena wishlist yang selama ini kuimpikan tinggal selangkah lagi untuk terwujud. Ada rasa cemas, tapi juga ada semangat yang terus membakar, karena aku tahu di ujung jalan ini ada sesuatu yang layak diperjuangkan.
Ketika akhirnya kabar kelulusan datang, aku masih tidak menyangka. Rasanya seperti mimpi yang perlahan menjadi nyata, dibantu oleh pertemuan-pertemuan yang tak terduga, dukungan komunitas bisnis anak muda yang selalu sabar menunggu proses, serta orang-orang baik yang membagikan “rumus” hidup bahwa bisnis, sama seperti menulis, adalah kendaraan menuju sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Aku baru menyadari, ternyata privilege “jalur langit” itu nyata adanya. Ketika usaha manusiawi sudah dimaksimalkan, sisanya adalah ketetapan yang datang dengan caranya sendiri.
Aku juga menyadari, jalanku sebagai penulis sebenarnya tidak pernah berhenti. Ia hanya berganti wujud. Jika dulu aku menulis untuk menghidupkan tokoh di atas kertas, kini aku sedang menulis kisah hidupku sendiri, dengan bisnis sebagai salah satu babnya. Bisnis dan menulis, bagiku, adalah dua jalan yang berjalan beriringan, menumbuhkan duri sekaligus bunga, demi diri sendiri bisa bermekaran dan memberi manfaat untuk orang-orang di sekitar.
Awal dari Perjalanan yang Sesungguhnya
Mendapatkan gelar certified trainer bukanlah garis akhir, melainkan gerbang menuju babak baru yang justru lebih menantang. Setelah sertifikasi ini, aku sadar bahwa proses belajar, bertumbuh, dan berproses baru saja dimulai. Masih banyak yang harus kupelajari, masih banyak wishlist lain yang menunggu untuk diperjuangkan satu per satu.
Dari perjalanan ini, aku belajar bahwa hal yang tampak asing dan menakutkan bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan panggilan untuk terus melangkah. Setiap usaha yang kita lakukan, sekecil apa pun, tidak pernah sia-sia. Ada Allah yang senantiasa menemani, memberi jalan lewat cara-cara yang tak pernah kita duga sebelumnya, entah lewat pesan seseorang, pertemuan tak sengaja, atau doa yang dikabulkan pada waktu yang tepat.
Bismillah, jalan ke depan mungkin akan makin panjang dan berliku. Tapi selama ada keyakinan bahwa setiap kebutuhan akan dijawab pada waktunya, perjalanan sepanjang apa pun akan terasa lebih ringan untuk dilalui. ***