Tempat Dimsum Mentai di Blitar, Belinya ke MaoLagi

Tempat Dimsum Mentai di Blitar, Belinya ke MaoLagi
Tempat beli dimsum di Blitar

Dimsum mentai jadi jajanan yang emang lagi hype dan jadi favorit banyak orang, termasuk aku. Makanya beberapa waktu lalu, aku nyobain dimsum dari MaoLagi yang lokasinya ada di selatan makam Bung Karno. Ternyata nggak cuma dimsum, ada banyak jajanan lain.

 

Dulu pertama kali tahu ada jajanan bernama dimsum itu ketika teman memberi kado tart, tapi isinya dimsum mentai. Sejak saat itu, aku jadi ketagihan dan selalu nyari dimsum mentai sebagai self-reward setiap berhasil nyelesaiin sesuatu.

 

Karena udah suka banget, aku sempat cobain dimsum dari berbagai brand di Blitar. Untungnya sekarang pilihan makin banyak, jadi kita sebagai customer tinggal pilih aja sesuai selera. Tapi salah satu yang wajib dicoba sih ya… di MaoLagi ini!

Table of Contents

MaoLagi, Rekomendasi Tempat Beli Dimsum Mentai di Blitar

 

 

Biasanya kalau beli dimsum, opsinya cuma takeaway atau dibawa pulang, karena jarang banget ada tempat yang sediakan dine in. Tapi beda nih sama yang aku temuin di daerah selatan Makam Bung Karno.

 

Namanya Dimsum x Gyoza MaoLagi, lokasinya ada di Sentul, Blitar. Kalau baru pertama kali ke sini mungkin agak bingung karena banyak banget penjual makanan berjejer dengan warna gerobak yang mirip, ada yang oranye, merah, sampai hijau.

 

 Nah, patokannya gampang: MaoLagi ada di sebelah timur jalan, dekat kursi duduk dan pusat oleh-oleh warna ungu.

 

Yang bikin aku betah, di MaoLagi kita nggak cuma bisa takeaway, tapi juga bisa makan di tempat. Jam bukanya mulai jam 1 siang sampai 10 malam, dan kalau hari Minggu biasanya ikutan buka di Car Free Day.

 

Pilihan tempat duduknya ada yang lesehan buat nongkrong santai, ada juga kursi buat yang lebih suka ngobrol lama bareng teman. Aku sendiri nggak sadar waktu ngobrol di sini, tau-tau udah lama banget karena suasananya nyaman banget buat curhat sambil nikmatin dimsum hangat.

 

Menu di Dimsum MaoLagi

 

 

Ternyata di kedai ini nggak cuma ada dimsum, lho! Pilihannya lumayan banyak, mulai dari gyoza, wonton, sampai mie level. Nah, khusus dimsum aja variannya udah bikin aku bingung mau pilih yang mana.

 

Aku sendiri akhirnya pesan dimsum ori isi 3 dengan harga sekitar 10 ribuan. Porsinya besar dan worth it banget. Terus, aku juga coba dimsum mentai isi 6 seharga 23 ribu. Harganya masih terjangkau, apalagi isiannya full daging ditambah pelengkapnya chili oil yang bikin makin nagih.

 

Yang menarik, di MaoLagi kita nggak cuma bisa pilih saus mentai aja, tapi juga bisa mix dengan cream cheese, cheese, dan topping lain. Kalau mau topping ekstra seperti mozzarella, tinggal tambah sekitar 2 ribuan, dan hasilnya bener-bener melimpah.

 

Selain dimsum, ada juga gyoza, dimsum nori, dan mie level. Awalnya aku sempat penasaran, adonan gyoza sama dimsum itu sama nggak sih? Ternyata beda tipis, gyoza ada tambahan sawi putih dan sedikit parutan jahe. Tapi di MaoLagi, rasa jahenya nggak terlalu kuat, jadi tetap enak dimakan.

 

Kalau mie levelnya, bumbunya nyatu banget sama mie, dan yang bikin kaget, harganya cuma 8 ribuan aja. Super affordable buat makan kenyang sambil nongkrong.

 

Cerita Dibalik Usaha Dimsum Maolagi dan Mie Jabrix

Mendengar kisah perjuangan di balik usaha Dimsum MaoLagi dan Mie Jabrix dari sang owner, Mbak Rahma, benar-benar bikin aku terinspirasi. Setiap usaha memang punya struggle-nya sendiri, begitu juga dengan Mbak Rahma yang pertama kali kukenal lewat komunitas Blitar CahPreneur.

 

Dia bercerita bagaimana awal berdirinya kedai ini hanya dari gerobak biasa saja, yang awalnya lebih dulu berjualan mie level. Saat itu belum banyak competitor yang berjualan. Sekitar tahun 2024, dan mulai ada inovasi produk dnegan tambahan dimsum pada akhir tahun 2024.

 

“Dulu awalnya itu gerobak mbak, di tepi jalan. Trus kita kasih tikar gitu,” katanya bercerita dengan mata yang berkaca-kaca. Sekarang, usahanya sudah berkembang—tidak lagi sekadar gerobak, tapi sudah bisa menyewa ruko di tepi jalan.

 

Saat mendengar perjuangan hidupnya di kota rantau Blitar, aku hanya bisa mengelus dada. Perjuangannya untuk bertahan hidup, dan bersabar dari masalah yang sedang terjadi membuatku belajar banyak hal.

 

Mbak Rahma ini berasal dari Kota Tulungagung, awal datang ke Blitar hanya bermodalkan uang 50 ribu rupiah. Ia bersama suami dan satu anaknya berjuang hidup di tengah kehidupan yang keras ini. Dari 50 ribu rupiah, ia mencoba memutarkan dengan jualan ketan susu.

 

Dari kisah Mbak Rahma, aku belajar bahwa setiap masalah bisa kita hadapi dengan sabar dan tawakal. Fokus pada diri sendiri, jangan terlalu peduli dengan komentar negatif orang lain, dan teruslah berusaha.

 

“Ya meskipun aku sudah ngontrak kios ini, aku tetap menerima kritik dan saran soal produkku. Aku tetep mau belajar, bahkan beberapa waktu lalu aku ikut kelas bikin dimsum,” cerita Mbak Rahma.

 

Dari situ aku sadar, salah satu ciri usaha yang bisa bertahan adalah ketika pemiliknya mau terus belajar dan berkembang. Belajar dari kesalahan dan masalah di masa lalu agar tidak terulang kembali.

 

 

Kesimpulan  

Kita tidak tahu bagaimana perjuangan seseorang dalam membuat usaha. Tapi dari cerita Mbak Rahma, kita bisa ambil pelajaran: apapun masalahnya, tetap sabar, berusaha, dan serahkan hasilnya kepada Sang Pencipta.

Jadi, buat warga Blitar yang mau makan dimsum dengan berbagai menu topping dan saus, bisa di MaoLagi. Atau mau cerita usahamu ditulis di blog bisa hubungi email di anisaalfinurfadila@gmail.com. ***  

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *