Apakah Penulis Harus Punya Buku?

Apakah Penulis Harus Punya Buku?

Dapat uang dari menulis

Pertanyaan semacam ini mungkin masih berkutat di kalangan penulis pemula, apalagi dengan memiliki buku, seperti validasi sebagai penulis semakin kuat. Tapi, semakin dewasa ini aku merasa bahwa penulis sebenarnya tidak harus memiliki buku. 

Kadang sebagian orang fomo ingin menerbitkan buku biar dianggap penulis, ingin dianggap keren, atau mungkin punya tujuan lain misal untuk meningkatkan poin dalam profesi. Tapi, kenyataannya, menulis mungkin mudah, tapi setelah terbit, apa yang harus dilakukan lagi?

Kalau menulis hanya sekadar mengabadikan karya, bisa pakai blog atau media online, dan ebook yang nggak perlu banyak dana. Sebenarnya yang berkutat di kepala itu, temen-temen penulis terutama di Blitar, tujuannya menulis sebenarnya buat apa? Apalagi sebagian besar tak pernah mengenalkan diri di dunia digital seperti ngonten atau personal branding di sosmed. 

Lalu kalau sudah punya buku, siapa yang beli? Teman-teman dan kolega saja? Selesai sampai di situ? Entahlah, aku masih terus mempertanyakan ini, karena sekarang aku lebih banyak melihatnya dari sisi bisnis juga, bukan berarti menulis harus melulu soal uang, tapi realitanya, karya yang tidak sampai ke pembaca yang tepat akan sulit bertahan lama.

Table of Contents

Hal yang Harus Dilakukan Penulis Pemula

menulis

Pertanyaan ini muncul lagi belakangan, saat aku bertemu teman sesama penyair. Sudah hampir sepuluh tahun aku tidak lagi aktif di komunitas kepenulisan atau sastra, jadi aku menanyakan kabar teman-teman di sana yang sebagian besar sudah menerbitkan buku. Ada rasa nostalgia sekaligus penasaran, karena dulu komunitas itu jadi tempatku belajar banyak hal soal proses kreatif.

Yang masih jadi pertanyaan di kepalaku: komunitas itu memang tetap hidup, tapi bagaimana dengan pertumbuhan tiap anggotanya? Saling mendukung dengan membeli buku sesama anggota itu bagus, dan itu bentuk solidaritas yang jarang ditemukan di luar sana.  Tapi tujuan jangka panjang juga perlu diperhatikan, supaya dukungan itu tidak berhenti hanya pada transaksi jual-beli buku antaranggota.

Mungkin karena itu sebagian orang bilang menulis hanya hobi, hanya sampingan. Tapi bagaimana dengan penulis pemula yang justru menjadikan menulis sebagai tujuan utama hidupnya, yang benar-benar ingin menggantungkan mimpinya di sana? 

Jadi ingat kata seorang sastrawan: menulis tidak akan membuatmu kaya, tapi membuatmu abadi. Kalimat itu indah, tapi juga menyisakan pertanyaan praktis,  bagaimana caranya tetap bertahan hidup sambil mengejar keabadian lewat kata-kata?

Jadi, untuk pemula yang ingin mencoba jadi penulis, memang sebaiknya jangan langsung dijadikan profesi utama sejak awal. Bangun dulu pondasinya pelan-pelan. Tapi kalau ingin serius menekuninya sebagai jalan hidup, mulailah menyusun langkah dari awal sampai akhir dengan baik dan terarah. 

Aku sendiri dulu menulis cerita pendek, resensi, dan puisi untuk koran atau majalah. Ketika koran mulai tergeser media online, aku beralih jadi blogger, sebuah transisi yang sebenarnya tidak direncanakan, tapi ternyata membuka jalan baru yang lebih relevan dengan zaman.

Sebenarnya banyak jalan untuk berkarier sebagai penulis, tinggal bagaimana kita merangkainya sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing. Kalau ingin tetap jadi penulis fiksi, mulai membangun personal branding di media sosial, sering ikut lomba dari penerbit, ikut berbagai challenge menulis, dan aktif di banyak platform, dari platform menulis, media sosial, sampai YouTube. 

Berkarier sebagai penulis profesional memang tidak mudah, dan jujur saja, jalannya sering berliku serta tidak instan. Tapi kalau sejak awal sudah gigih dan konsisten, pasti akan ada jalan yang terbuka satu per satu, meski mungkin tidak selalu sesuai ekspektasi awal.

Gimana Caranya Dapat Uang dari Menulis?

cara dapat uang menulis

Sebelum bicara soal uang, kamu perlu paham bahwa menulis butuh jam terbang dan konsistensi supaya kualitasnya makin mudah dipahami pembaca. Ini bukan proses instan,  semakin sering menulis, semakin terasah juga kepekaan terhadap diksi, alur, dan cara menyampaikan gagasan.

Seperti kata orang: tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Lebih baik mencoba dan menyelesaikannya, daripada terus menunda karena merasa belum sempurna.

Di awal menulis, aku juga pernah tidak percaya diri untuk mengirim tulisan ke koran atau majalah, bahkan untuk dibaca teman sendiri, aku memilih menyimpannya rapat-rapat. Rasa takut dinilai atau dianggap kurang bagus itu nyata, dan aku yakin banyak penulis pemula lain merasakan hal serupa.

Tapi kalau terus begitu, aku tidak akan pernah berkembang. Akhirnya aku memberanikan diri, karena semuanya memang berproses, dan proses itu tidak bisa dilompati.

Berikut beberapa tips agar kamu bisa dapat penghasilan dari menulis. Karena mau tidak mau, sebagai penulis yang idealis pun kita tetap butuh makan agar punya energi untuk terus berkarya, idealisme dan kebutuhan hidup sebenarnya bisa berjalan beriringan kalau kita cukup strategis dalam mengelolanya.

Mengirim ke Koran, Media Online, atau Penerbit

Saat pertama kali merintis jadi penulis, aku mencoba mengirim karya, puisi, cerpen, atau resensi,  ke koran dan media online, berbayar atau tidak. Yang penting kirim dulu sambil melatih konsistensi menulis tiap hari, karena honor bukan satu-satunya motivasi di fase awal ini.

Butuh waktu tidak sebentar, sekitar tiga bulan, sampai akhirnya salah satu puisiku dimuat di Radar Surabaya dengan honor 50 ribu. Jumlahnya kecil, tapi rasa senangnya luar biasa, karena itu jadi bukti pertama bahwa tulisanku layak dibaca orang lain di luar lingkaran pertemanan. Sayangnya, waktu itu aku belum paham pentingnya mengarsipkan karya, begitu terbit, ya sudah, selesai, tanpa dokumentasi yang rapi.

Mengirim ke berbagai platform menulis juga bisa jadi acuan untuk mengembangkan karya, karena tulisanmu akan dikurasi oleh editor yang punya standar tersendiri. Jadi jangan berkecil hati kalau belum dimuat, setidaknya kualitas tulisanmu jadi makin terasah lewat proses seleksi itu, bahkan ketika hasilnya penolakan.

Jadi Freelance Writer di Aplikasi Freelancer

Setelah agak bosan menulis fiksi, aku mulai mencoba jadi content writer di media online. Waktu itu lumayan, gajinya bisa setara UMR Blitar, apalagi ada jenjang karier sampai ke posisi editor yang membuka peluang penghasilan lebih stabil.

Buat kamu yang suka menulis artikel, coba tawarkan diri di aplikasi freelancer seperti Fastwork, Freelancer.com, dan sejenisnya. Tapi di era AI seperti sekarang, kamu juga perlu lebih pintar menawarkan diri lewat branding dan portofolio di media sosial, supaya klien bisa melihat gaya menulismu sebelum benar-benar merekrut.

Jadi Blogger

Keputusan menjadi blogger pada tahun 2022 adalah hal yang tidak pernah aku sesali. Meski sekarang tawaran job blogger mungkin mulai sedikit karena pergeseran tren konten, di sini kita bisa dibayar per tulisan,  beda dengan content writer di media online yang biasanya dibayar per preview atau per proyek besar.

Sejauh ini, job termahal yang pernah aku dapat dari nge-blog sekitar 400 ribu untuk satu tulisan. Tentu saja ada proses panjang sebelum akhirnya bertemu perusahaan atau brand yang tepat, termasuk membangun reputasi dan portofolio yang meyakinkan.

Buka Mentoring Kepenulisan dan Menjadi Juri

Menurutku ini level selanjutnya dalam perjalanan seorang penulis. Membuka mentoring kepenulisan atau menjadi juri biasanya baru bisa dilakukan setelah ada bukti pengalaman, entah lewat karya yang sudah diakui atau jam terbang yang panjang di dunia menulis. Jadi ini bisa jadi langkah lanjutan untuk kamu yang ingin serius menghasilkan dari dunia tulis-menulis, sekaligus berbagi ilmu ke generasi penulis berikutnya.

Kesimpulan

Menjadi penulis sebenarnya tidak harus memiliki buku, kalau memang tujuannya hanya untuk mengarsipkan karya, apalagi kalau dananya terbatas. Tapi semua itu kembali lagi pada tujuan masing-masing, dan tidak ada jalan yang lebih benar dibanding yang lain selama kita jujur pada niat awal kita menulis. Nah, kalau kamu, berniat jadi penulis atau tidak? ****

 

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *