
Selama ini kalau dengar kata perempuan dan pangan, yang biasanya terbayang di pikiran tentang masak, menyiapkan makanan, atau memastikan agar keluarga nggak kelaparan. Tapi, setelah ikut Online Gathering Eco Bloggers Squad (EBS) bareng @theasiafoundation dan @kawanpesisirr4, aku jadi punya sudut pandang berbeda.
Ternyata perempuan punya peran penting dalam ketahanan pangan local, bukan hanya soal urusan dapur saja, tapi perempuan bisa ikut menentukan asal pangan, cara mengolah, hingga gimana caranya sebuah keluarga bisa bertahan dengan apa yang ada di sekitar ketika suatu hari sumber pangan utama menipis.
Online gathering hari ini, aku belajar dan mendengar cerita perjalanan perempuan dalam menjaga ketahanan pangan local Mangrove di Kampung Friwen, Raja Ampat Papua. Mangrove yang dulunya sering kukenal hanya sebagai pengaja pantai, mencegah abrasi, ternyata memiliki manfaat yang tak terduga. Menjadi sumber pangan sehari-hari masyarakat sekitar.

Bukan hanya buahnya saja yang bisa diolah, tapi mangrove yang kita kenal sebagai tanaman di Kawasan pesisir pantai, muara sungai dan punya keunikan dengan akarnya yang kokoh ini ternyata sudah dimanfaatkan Masyarakat Friewen menjadi tepung, cookie, sirup, madu, sampai cemilan local lainnya.
Teringat apa yang dikatakan oleh Bung Daniel saat online gathering hari itu bahwa masyrakat Papua nggak harus selamanya bergantung dengan beras sebagai sumber pangan utama, tapi jika suatu hari terjadi krisis pangan, masyarakat harus bisa memanfaatkan apa yang sudah disediakan oleh alam, salah satunya Mangrove.
Mangrove Bukan Sekadar Penjaga Pesisir, Tapi Ruang Hidup dan Sumber Penghidupan

Aku baru tau ternyata area mangrove paling utuh sedunia berada di Raja Ampat. Dan manfaatnya tidak hanya sebagai tempat keanekaragaman hayati saja, namun juga kehidupan yang berkelanjutan bagi makhluk hidup di sekitarnya.
Lalu, gimana kalau kita jauh dari Mangrove, apa yang sebenarnya kita pelajari dari kampung Friewn? Pertanyaan itu yang terus muncul di kepalaku pas online gathering #ecobloggersquad dengan #TAFIndonesia kemarin. Apalagi menjelang Bangkok Climate Action Week 2026 di Bulan Oktober, isu perubahan iklim yang lagi marak kita rasakan sekarang ini juga ikut berdampak ke ekosistem mangrove itu sendiri.
Di tengah itu semua, aku justru melihat sisi lain dari #merawatmimpi masyarakat Friwen. Mangrove menjadi ruang hidup dan sumber penghidupan yang keberadaannya dilindungi, namun Kawasan tersebut mulai terdegradasi karena adanya pembangunan homestay dan resort.
Melibatkan masyarakat local dalam memetakan zonasi konservasi mangrove menjadi salah satu upaya untuk melindunginya. Selain itu juga dilakukan pemetaan jenis mangrove, pembiibitan local, partisipasi masyarakat adat, pengolahan mangrove jadi pangan local, hingga peran perempuan yang turut serta dalam memerankan ketahanan pangan di Raja Ampat, Papuan.
Perempuan Punya Andil dalam Ketahanan Pangan Lokal

“Karena ada hutan, kitorang perempuan itu hidup. Di Papua kita mau jaga hutan kita perkuat perempuannya, ketika perempuan itu kuat maka bangsa itu juga menjadi kuat.” Loesye Ermy Fainno, Penerima Women Champion Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Tahun 2022.
Cerita Bung Steve tentang perempuan dan hutan terus terngiang dan #menumbuhkaninspirasi di kepalaku. Dulu aku berpikir bahwa ketahanan pangan itu soal produksi yang besar, distribusi, hingga cara negara mengelola pangan agar masyarakat tak kekurangan makanan.
Tapi dari cerita Kampung Friwen, aku melihatnya dari sudut pandang berbeda. Hutan, keluarga, perempuan dan pangan local jadi satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan. Seperti halnya mangrove yang mungkin cuma dikenal sebagai ekosistem pesisir, ternyata menjadi sumber pangan local dan bisa dikembangkan menjadi berbagai olahan.
Dari cerita Mangrove dan masyarakat Friwen ini aku belajar hal sederhana, ada ilmu pangan lokal yang sedang dijaga, ada perempuan yang diberdayakan untuk mengolahnya, dan ada sebuah usaha agar ketika suatu sumber pangan utama mengalami krisis, kita masih punya pilihan lain dari apa yang tumbuh di sekitar kita.
Aku jadi teringat sosok perempuan paling berjasa di rumahku, yang selalu punya trik buat menjaga ketahanan pangan lokal keluarga. Cara berpikir masyarakat Friwen seolah udah tertanam di benak ibuk, soal mengenali pangan, menghargainya, mengolahnya, bahkan selalu membagikan apa yang dia tau ke orang-orang sekitar.
Seperti halnya gatot yang berasal dari singkong. Gatot singkong punya cerita tersendiri buat ibuku, karena makanan tradisional ini selalu mengingatkannya pada masa lalu, saat petani nggak punya pilihan lain ketika hasil padi selalu disetor ke penjajah. Mau nggak mau, singkong jadi pilihan untuk bertahan agar tetap bisa makan saat itu.
Singkong, sama seperti mangrove, setiap bagiannya punya manfaat berbeda. Bisa jadi tepung, camilan, keripik, sayuran, atau gatot singkong yang bisa disimpan lama dan jadi pilihan makanan yang mengenyangkan.
Kesimpulan
Setelah online gathering tentang ketahanan pangan local, sebenarnya aku berpikir satu hal. Aku tinggal jauh dari Raja Ampat, bahkan aku sama sekali nggak pernah melihat tanaman mangrove itu sendiri, hanya bisa melihat dari gambar atau video di internet dan online gathering @ecobloggersquad dengan #theasiafoundation. Lalu, apa yang sebenarnya bisa kupelajari?
Ternyata aku melupakan satu hal, soal ketahanan pangan local dan perempuan sangat erat berkaitan. Seperti halnya mangrove dan perempuan Kaum Friwen, ada gatot singkong dan ibu yang berperan menjaga kehidupanpangan local sebuah keluarga.
Pada intinya, ketahanan pangan ternyata bisa dimulai dari rumah kita sendiri, dalam sebuah prosesnya ada seorang perempuan yang memiliki peran penting bukan hanya sebagai orang yang memasak saja, namun juga memastikan agar sumber pangan tersebut dikenal dan dimanfaatkan oleh generasi berikutnya. ***