Dari Pangan Lokal Singkong, Lahan Gambut, Hingga Karhutla

Dari Pangan Lokal Singkong, Lahan Gambut, Hingga Karhutla
pangan lokal singkong

Pernah dengar nggak kalimat, “Kalau belum makan nasi, kayak belum makan apa-apa”? Nah, kalimat itu seolah sudah menjadi mindset bahwa makanan yang mengenyangkan ya harus nasi, padahal ada pangan lokal lain yang seharusnya bisa menjadi pengganti.

Dulu aku sempat terbiasa dengan anggapan belum makan nasi berarti belum kenyang, meskipun sudah mengonsumsi makanan lainnya. Untungnya, semakin dewasa aku menyadari bahwa nasi bukan satu-satunya makanan pokok yang bisa kita konsumsi karena masih banyak sumber pangan lokal yang tersedia di sekitar kita.

Seperti halnya singkong dan ubi yang sejak kecil selalu ada di rumah karena aku memang terlahir sebagai anak petani. Jadi, di sawah ataupun di sekitar rumah selalu ada tanaman ubi dan singkong yang bisa dimanfaatkan menjadi berbagai makanan maupun camilan.

Apalagi ibuku selalu punya cara agar singkong dan ubi menarik untuk dimakan, entah dibikin tiwul, gatot, getuk, keripik, jemblem, dan masih banyak lagi. Hal ini mengingatkanku bahwa singkong bukan sekadar pangan lokal, melainkan salah satu wujud kekayaan keberagaman sumber pangan Indonesia yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Table of Contents

“Anugerah terbesar Indonesia itu keberagaman. Namun, justru semakin tahun semakin kehilangan keberagaman konsumsi, terutama dari bahan pangan lokal, karena kita itu keberagaman, bukan keseragaman.”

Itulah salah satu insight yang paling membekas ketika aku mengikuti Eco Blogger Squad Online Gathering #2 bertema “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan.” Kalimat tersebut disampaikan Ahmad Arif, yang akrab disapa Kak Aik, dari Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia ketika mulai memaparkan materinya tentang keberagaman pangan Indonesia.

Dalam pemaparannya, Kak Aik mengingatkan bahwa salah satu anugerah terbesar Indonesia justru terletak pada keberagamannya, mulai dari budaya, bentang alam, hingga sumber pangan yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan masing-masing wilayah. Penjelasan tersebut membuatku kembali memikirkan singkong yang ditanam ibuku karena jika di Blitar masyarakat bisa memanfaatkan singkong dan ubi, daerah lain tentu memiliki sumber pangan dengan karakteristik yang berbeda.

Di berbagai daerah, masyarakat mengenal jagung, talas, sagu, singkong, dan umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Masing-masing memiliki hubungan dengan budaya, kebiasaan makan, serta kondisi lingkungan setempat yang membuat kekayaan pangan Indonesia begitu beragam.

Sayangnya, pola konsumsi pangan masyarakat perlahan mengalami pergeseran karena beras dan tepung terigu semakin mendominasi, sementara berbagai pangan lokal belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, keberagaman sumber pangan merupakan salah satu kekuatan Indonesia dalam membangun ketahanan pangan karena masyarakat tidak harus bergantung pada satu komoditas untuk memenuhi kebutuhan makanannya.

Lantas, mengapa keberagaman tersebut harus dipaksakan menjadi seragam, sementara setiap daerah sebenarnya memiliki kekayaan pangan yang berbeda? Bukankah justru dari perbedaan itulah kita bisa melihat betapa kayanya Indonesia dengan sumber pangan yang telah beradaptasi dengan lingkungan masing-masing?

Hutan Bukan Sekadar Lahan Kosong, Malah Dialihfungsikan

Cerita dari Kak Aik yang paling membekas dan membuat sesak di dada adalah ketika ia menyoroti sudut pandang pemerintah yang seolah menganggap hutan sebagai lahan kosong sehingga dapat diubah begitu saja menjadi persawahan, perkebunan, atau kebun kelapa sawit. Padahal, setiap ekosistem memiliki fungsi berbeda yang tidak bisa begitu saja digantikan hanya karena suatu kawasan dianggap memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi lahan produksi.

Aku semakin bertanya-tanya ketika hutan sudah dialihfungsikan, lalu bagaimana dengan sumber pangan lokal yang selama ini tumbuh dan beradaptasi dengan kondisi cuaca, iklim, serta tanah di masing-masing wilayah? Misalkan saja lahan gambut yang selama ini menjadi bagian dari sumber kehidupan masyarakat, tetapi justru menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, termasuk yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan.

Di sini, Kak Yoga dari Pantau Gambut menjelaskan banyak hal seputar lahan gambut yang menjadi tempat tumbuhnya berbagai sumber pangan lokal sekaligus memiliki fungsi penting bagi kehidupan masyarakat. Ia juga menyoroti bahwa karhutla tidak bisa hanya dikaitkan dengan fenomena El Niño atau cuaca kering, karena ada faktor aktivitas manusia, termasuk pengeringan lahan, pembukaan kawasan, hingga dugaan pembakaran yang disengaja untuk kepentingan alih fungsi lahan.

Kebakaran gambut bahkan dapat berlangsung di bawah permukaan tanah sehingga sulit dipadamkan, terutama ketika kondisi gambut sudah mengering dan api menjalar ke lapisan organik di dalamnya. Dampaknya bukan hanya kabut asap dan hilangnya pepohonan, tetapi juga kerusakan habitat tumbuhan dan satwa, terganggunya kualitas air, serta ancaman terhadap sumber penghidupan masyarakat.

Di kawasan yang masyarakatnya bergantung pada sumber daya alam, kerusakan tersebut dapat memengaruhi ketersediaan ikan rawa, tumbuhan pangan, dan berbagai hasil alam lainnya yang selama ini dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Di sinilah hubungan antara karhutla, biodiversitas, dan pangan menjadi semakin jelas karena kerusakan lingkungan ternyata juga bisa berdampak pada keberagaman sumber makanan masyarakat.

Ketika ekosistem rusak, yang terancam bukan hanya keanekaragaman hayati, melainkan juga sumber pangan dan pengetahuan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, menjaga lahan gambut tetap basah dan mencegah kebakaran merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan fungsi ekologis sekaligus sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Dari cerita ini, mataku seolah semakin terbuka lebar bahwa isi piring makan kita sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari kondisi alam yang selama ini menyediakan berbagai sumber pangan. Ketika ada pihak yang tidak bertanggung jawab merusak ekosistem demi kepentingan tertentu, dampaknya bisa jauh lebih panjang daripada yang terlihat karena potensi pangan lokal pun ikut terancam berkurang.

Belajar dari Keberagaman Pangan Lokal Singkong yang Ditanam Ibuku

Aku kembali teringat pada singkong dan ubi yang ditanam ibuku karena sesuatu yang selama ini terlihat sederhana ternyata menyimpan pelajaran tentang keterkaitan antara manusia, lingkungan, dan sumber pangan. Singkong di Blitar, jagung di berbagai daerah, hingga sagu yang dapat tumbuh di lahan gambut menunjukkan bahwa setiap wilayah memiliki cara tersendiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya.

Mungkin singkong yang ditanam ibuku tidak memiliki hubungan langsung dengan kebakaran hutan, tetapi keduanya mengajarkan hal yang sama bahwa sumber pangan memiliki keterkaitan dengan kondisi alam tempatnya tumbuh. Menjaga keberagaman pangan bukan berarti menolak nasi atau menghentikan kegiatan pertanian, melainkan memberi ruang bagi berbagai sumber pangan lokal untuk terus dimanfaatkan dan dikembangkan sesuai karakteristik wilayahnya.

Begitu pula dengan perlindungan hutan dan gambut yang memiliki fungsi berbeda dan tidak selalu dapat digantikan oleh bentuk penggunaan lahan lainnya. Dari olahan singkong di meja makan hingga persoalan karhutla di lahan gambut, aku semakin memahami bahwa ketahanan pangan tidak cukup dibangun melalui peningkatan produksi satu komoditas saja.

Kita juga perlu menjaga keanekaragaman hayati, pengetahuan masyarakat, dan lingkungan yang mendukung keberadaan berbagai sumber pangan lokal agar tetap bisa dimanfaatkan oleh generasi berikutnya. Sebab, Indonesia adalah keberagaman itu sendiri, sebuah kekayaan yang seharusnya kita rawat dan pertahankan, bukan dipaksakan menjadi keseragaman. ***

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *