Dampak Bakar Sampah Meresahkan Lingkungan

Bakar sampah masih menjadi persoalan pengelolaan sampah yang dianggap paling mudah menuntaskan masalah limbah. Apalagi di desa, pembakaran sampah dianggap hal yang wajar untuk membersihkan lingkungan dari tumpukan sampah yang berserakan.

Itulah yang kualami ketika tinggal di kota, membuatku bisa merasakan bagaimana membakar sampah ternyata meresahkan. Apalagi dampaknya dari asap pembakaran tak hanya membuat pencemaran lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan.

Kalau di kota, tumpukan sampah setelah dipilah dapat dibuang di tong depan rumah. Lalu tiap dua hari sekali bakal ada jasa pengangkut sampah yang membawanya ke TPU. Sedangkan di desa, karena masih adanya lahan-lahan kosong di sekitar rumah, sampah dikumpulkan di sebuah galian lubang besar. Nantinya jika sudah banyak, sampah bakalan dibakar secara bertahap.

Awalnya aku menganggap bakar sampah adalah hal biasa, tetapi semenjak pindah ke kota, dan merasakan resahnya ketika ada bau asap pembakaran yang menyebar diterbangkan angin. Kepulan asap tebal berembus kencang hingga menganggu jarak pandang, atau bahkan jemuran harus gegas diangkat agar tak bau. Akhirnya aku menyadari, bakar sampah itu meresahkan, tetapi sayangnya belum ada solusi serentak yang berkelanjutan.

Dampak Bakar Sampah, Ancam Lingkungan dan Kesehatan

Sumber: unsplash

Ritual bakar sampah yang meresahkan tak hanya berdampak pada lingkungan saja, tetapi jangka panjangnya adalah kesehatan makhluk hidup di bumi bakal dipertaruhkan. Seperti halnya polusi dari asap kendaraan yang ada di perkotaan, pembakaran sampah yang sudah dianggap hal biasa di pedesaan justru nyatanya jadi polusi udara hingga menyebabkan pemanasan global, perubahan iklim, dan menipisnya lapisan ozon.

Pembakaran sampah yang masih menjadi tradisi dalam mengelola limbah secara instan sudah selayaknya mulai mendapat perhatian. Tak hanya pengelolaan sampahnya yang harus diperhatikan, namun juga bagaimana dampak yang timbul dalam jangka panjang akibat membakar sampah harus terus disosialisasikan di masyarakat.

Menurut halodoc.co, membakar sampah sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh karena ada banyak zat beracun yang terkumpul dalam asap tebal pembakaran, lalu bisa menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi, masalah kulit, hingga memicu kanker.

Beberapa zat beracun yang terdapat dalam pembakaran sampah plastic yang tidak dipilah sebelumnya seperti Nitrogen Oksida, Sulfur ksida, VOC, POM, dioksin, dan lain-lain. Zat tersebut jika terbawa angin melalu asap tebal bakar sampah, akan menyebabkan pencemaran baik di air maupun udara. Dan jika menempel pada makanan,bisa juga zat racun tersebut masuk ke dalam tubuh.

Penyebab Bakar Sampah, Katanya Solusi Atasi Limbah

“Orang desa pasti berpikir bahwa semua polusi yang terjadi saat ini berasal dari kota, baik dari asap kendaraan bermotor, ataupun dari asap pabrik. Tapi, sebenarnya desa juga turut menyumbang asap polusi udara melalui pembakaran sampah yang sudah dianggap kebiasaan,”kata mas tiba-tiba saat membicarakan tentang bakar sampah.

“Bukankah memang membakar sampah sudah diturunkan oleh orang-orang sejak dulu, cara efektif untuk mengatasi tumpukan sampah di desa?” tanyaku saat itu dengan polosnya.

“Kalau jumlah penduduknya masih seperti zaman nenek moyang, tak menjadi persoalan. Tapi, kalau jumlah penduduknya sudah melebih batas seperti saat ini, terutama di Indonesia, bagaimana?” kamu bertanya padaku yang kujawab hanya dengan gelengan kepala.

Beberapa waktu lalu aku memang sempat diskusi dengan mas suami tentang bahayanya bakar sampah untuk lingkungan dan kesehatan. Awalnya memang aku nggak ngeh  kalau bakar sampah jadi permasalahan lingkungan layaknya asap kendaraan dan pabrik, tapi Mas yang notabene pernah menjadi aktivis lingkungan membuat pola pikirku jadi terbuka.

Ada berbagai penyebab kenapa masalah bakar sampah masih menjadi persoalan yang merajalela, bahkan sulit dihilangkan. Salah satunya karena kebiasaan turun menurun jadi seperti sudah dianggap kewajaran mengatasi masalah tumpukan sampah. Apalagi peran pemerintah yang kurang aktif dalam memberikan edukasi serta solusi menjadikan permasalahan bakar sampah masih belum tuntas hingga sekarang.

Padahal pemerintah sudah mengeluarkan Perda terkait aturan larangan membakar sampah, jika dilanggar akan mendapat denda, hingga kurungan penjara paling lama tiga bulan. Perda tersebut nyatanya hanya berlaku di beberapa tempat saja, sedangkan daerah lain bakar sampah masih menjadi solusi atasi limbah. Penyebab bakar sampah di desa masih merajalela diantaranya:

  • Tak ada tempat pemrosesan akhir di desa

Lahan luas yang dimiliki setiap rumah di desa menjadikan masyarakatnya memiliki TPA sendiri dengan bermodalkan galian lubang besar di belakang rumah. Namun sayangnya di galian ini berbagai macam sampah organic maupun anorganik menjadi satu, terkadang tanpa dipilah dahulu.

Lalu jika sudah menumpuk, cara mengatasinya cukup dibakar, biar keesokan harinya dapat digunakan lagi untuk membuang sampah. Karena sebab inilah tak ada TPA yang dibangun di desa

  • Kebiasaan Turun Menurun

Penyebab paling sulit diubah yaitu kebiasaan yang sudah dilakukan sejak kecil dan sudah dianggap hal wajar. Adanya kesadaran pentingnya menjaga lingkungan dengan tidak membakar sampah sangat diperlukan untuk meminimalisasi dampaknya tidak berefek jangka panjang.

  • Tidak tahu dan tidak mau tahu cara memilah sampah

Jika menyadari pentingnya memilah sampah untuk mengurangi perubahan iklim, tentu akan ada dampak positif yang ditunjukkan bumi kepada kita. Sampah organik jika bisa dikelola dengan baik akan dapat menghasilkan pupuk kompos yang baik untuk tanaman, sedangkan sampah anorganik bisa dijual ke pengepul atau dijadikan barang kerajinan yang nantnya bisa mendatangkan cuan.

Jadi, bukan salah sampahnya yang menumpuk, lalu solusi mengatasinya dengan dibakar. Tapi baik masyarakat di desa atau kota harus menyadari dulu pentingnya menjaga kehidupan di masa depan yang dimulai dari hal sederhana yaitu memilah sampah.

Kesimpulan

Sejauh ini permasalahan bakar sampah yang berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan harus disadari dulu oleh setiap individu. Kesadaran itulah yang nantinya dapat menggerakkan apapun untuk bertindak, salah satunya bijak mengelola sampah, dan tak lagi membakar sampah karena tahu zat berbahayanya yang mengancam kesehatan.

Kesadaran untuk menjaga bumi dengan tidak membakar sampah itu bisa dimulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga. Karena dari pondasi dasar terutama peran ayah untuk membimbing setiap anggota keluarga tentang pentingnya menjaga lingkungan dimulai dari hal sederhana seperti memilah sampah, sangatlah berdampak terhadap kehidupan bumi yang berkelanjutan.***

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *